Kategori
FENOMENA NEWS

Black: Gubernur Khofifah Meremehkan dan Menelantarkan Nasib Pedagang Kecil

Surabaya, kabarkini.co - Nur Hidayah (36) pedagang sayur pasar Ngempit, Sidogiri, Pasuruan ini hampir dua tahun tidak bisa berdagang dengan tenang. Pasalnya perempuan kelahiran 1986 ini dipaksa keluar dari lapak yang dijadikan tempat dagangnya dan digantikan dengan orang lain.

Nur Hidayah juga mengaku, melalui kuasa hukumnya Diyan Moelyadi SH yang berkantor di jalan Nyi Cempo Barat 2A, Kedungturi, Taman, Sidoarjo, kalau dirinya sudah berupaya mencari keadilan ke pihak Kabupaten Pasuruan namun tidak ada jawaban. Ke Inspektorat setempat juga sudah ia tempuh. Namun semuanya nihil. Selasa, (27/2/2023).

“Sekarang saya berharap kepada ibu Khofifah selaku Gubernur agar ada solusi bagi saya. Terus terang kasus saya ini seperti diremehkan dan diterlantarkan”. Ucap Black, sapaan Diyan Moelyadi kepada media.

Stan/Lapak Nur Hidayah di segel

Lebih jauh, Black menyampaikan, bahkan dirinya juga berupaya koordinasi dengan Sekda Jatim, namun pihak yang bersangkutan tidak ada di tempat. Kemudian dirinya diarahkan ke bidang Kesra. Setali tiga uang, bahwa Kesra tidak menangani pengaduan.

“Kami diarahkan lagi agar membuat surat pengaduan terkait kasus tersebut ditujukan kepada Gubernur langsung. Dan suratnya ditaruh di bagian umum”, papar Black menirukan petugas protokoler gubernuran jatim.

Dengan didampingi Black, Nur Hidayah mengatakan, bahwa dirinya pada tanggal 10 Januari 2019 menyewa lapak milik Haji Imron. Proses sewa lapak tersebut juga diketahui oleh PD lama Ahmad Saikhu. Bahkan Saikhu juga mengetahui besaran nominal sewa pertahunnya Rp5 juta.

Diluar uang sewa, masih dikatakan Nur Hidayah, bahwa Haji Imron juga kerap meminta uang tambahan buat modal usahanya.

“Uang itu katanya untuk mengisi lapaknya. Saat itu dia jual jam Dinding”, ujar Nur Hidayah. Uang tambahan sewa yang diminta oleh almarhum jika ditotal mencapai kisaran Rp65 juta.

Terkait uang sewa yang diberikan kepada Haji Imron, Nur Hidayah selalu menanyakan regristasi pembayaran lapak pasar. Dan bukti pinjamannya. Namun dirinya selalu mengatakan kalau uang tersebut sudah masuk dan dicatat dalam bukunya.

“Katanya pada saatnya nanti akan diberikan rinciannya kepada saya. Bahkan dia juga menjajikan akan mengurus administrasi terkait sewa lapak yang saya tempati saat itu”, ujarnya.

Tidak hanya itu, Haji Imron juga menjajikan akan membalik nama atas perolehan lapak kepada Nur Hidayah. Proses tersebut juga disaksikan langsung oleh Saikhu selaku PD (lama) pasar Ngempit.

“Pokoknya lapak tersebut nantinya atas nama saya,” sergah Nur Hidayah lagi.

Namun, nasib berkata lain pada 2021 Haji Imron tutup usia alias almarhum. Tidak lama dari kematian Imron, tiba-tiba muncul seseorang yang mengaku sebagai ahli waris dari Imron. Bahkan orang yang mengaku sebagai ahli waris tersebut sempat menghampiri lapak Nur Hidayah sambil menawarkan lapak yang ditempatinya sebesar Rp100 juta.

“Saya ditawari kalau harga lapak tersebut 100 juta. Ya jelas saya tidak mampu dengan harga yang ditawarkannya. Karena sebagian uang saya sudah dibawa Haji Imron”, jelas Nur Hidayah.

Nur Hidayah juga memberikan penjelasan terkait uang yang sudah di oleh Imron, namun oknum yang mengaku sebagai ahli waris tersebut tidak mau tau.

Mengetahui hal tersebut, Nur Hidayah pun berupaya mencari solusi dengan menghadap Pak Menteri, panggilan Zainul selaku PD pasar yang baru. Dengan harapan permasalahannya dapat dimediasi.

Namun, kenyataannya oknum (ahli waris) tersebut tidak mau dimediasi dengan penawaran harga tersebut.

Yang lebih mengejutkan bagi Nur Hidayah, tiba-tiba ada oknum datang kepada dirinya. Kalau oknum tersebut mengaku sebagai pemilik baru lapak yang ditempatinya. Dengan pengakuan kalau dirinya sudah membeli dari ahli waris almarhum haji Imron.

“Saat saya beraktifitas di lapak, ada oknum yang mengaku sebagai pemilik lapak baru sambil menunjukan bukti pelimpahan lapak. Saat itulah terjadi perdebatan dengan orang tersebut. Eh, ga taunya ke esokan harinya PD pasar baru datang dengan jajaranya memindahakan barang dagangan saya. Apalagi saat mengambil barang-barang saya dengan cara arogan dan berlaku kasar. PD pasar juga melarang saya untuk berjualan sayur di lapak tersebut lagi. Saya shok”, imbuhnya dengan di dampingi pengacaranya. 2B