Kisah Pasutri di Surabaya yang Terbujuk Rumah Rp 4,5 Miliar dengan Surat Dijaminkan Bank

Surabaya, kabarkini.co : Ketua Majelis Hakim, Sutarno memimpin jalannya persidangan perkara pemalsuan surat. Dalam sidang tersebut, terdakwa Kho Handoyo Santoso dihadirkan pula dalam sidang yang digelar secara teleconference di PN Surabaya.

Dalam sidang dengan agenda kesaksian itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU), Darmawati Lahang menghadirkan korban. Diantaranya Elanda Sujono. Selai itu, ada pula broker yang juga dihadirkan, yakni Elizabeth Kaveria.

Di hadapan hakim, Elanda menyatakan bila ia mengenal terdakwa ketika hendak membeli rumah di Komplek Pakuwon City Cluster Long Beach S9 Nomor 55 Surabaya. Dalam pembelian itu, disepakati harga senilai Rp 4.350.000.000.

Dalam kesepakatan itu, dilakukan melalui Elizabeth selaku broker melalui rekannya. Lalu, keduanya mengecek lokasi bersama perantara dan istrinya. Menurutnya, istri terdakwa memiliki kemauan untuk segera menghuni rumah itu.

Mulanya, ia mengaku telah membayar uang tanda jadi senilai Rp 150 juta. Lalu, dibayar lagi secara bertahap senilai Rp 2 miliar.

"Dibayarkan melalui transfer ke rekening Bank Mandiri atas nama Kwee Sianawati yang merupakan istri terdakwa," katanya saat sidang di PN Surabaya. Selasa (12/7/2022).

Sisanya, dibayar secara in house atau mengangsur selama 1 tahun. Namun, dengan total harga rumah yang disepakati mencapai Rp 4.35 miliar.

Setelah pembayaran, dibuat lah Ikatan Jual Beli (IJB) melalui Notaris Ariyani di kawasan yang ada di Jalan Ngagel. Di sana, ada Kho Handoyo, perantara, dan juga Elanda.

Ihwal pelunasan, Elanda menuturkan bila rumah tersebut sudah lunas. Bahkan, ada bukti pelunasannya.

"Setelah rumah itu saya tempati, tiba-tiba ada orang dari Bank Permata datang, katanya ada tunggakan pembayaran. Kemudian saya hubungi terdakwa tidak ada respon, lalu saya hubungi notaris Aryani dan bertemu dengan terdakwa," bebernya

Lantas, ia baru mengakui bila rumah itu dijaminkan di bank. Bahkan, ada tunggakan pembayaran.

"Kesepakatan pada saat itu, terdakwa memohon-mohon agar tunggakan di bank ditalangi dulu, dan berjanji enam bulan ke depan akan mengganti nya, namun setelah enam bulan tidak ada kabar, malah saya digugat perdata oleh terdakwa," terangnya

Elanda mengungkapkan, ia lah mengangsur tunggakan terdakwa di bank. Setiap bulan, ia mengeluarkan uang senilai Rp 39 juta hingga saat ini.

Namun, ketika disinggung JPU apakah saat di notaris dijelaskan bahwa rumah tersebut dijaminkan di Bank beserta kelengkapannya, ia mengakui saat itu memang dibacakan. Namun, ia tak tahu secara detail

"Saya kurang paham hukum, Saya hanya percaya saja pak hakim kerena ada notaris," tuturnya.

Elanda menegaskan, saat itu terdakwa menyatakan seluruh surat ada di notaris. Apabila sudah lunas, bisa langsung dibalik nama.

"Yang saya ingat waktu di notaris, rumah itu tidak ada masalah. Terdakwa saat itu mengatakan sertifikat masih dalam proses, karena sertifkat induknya belum dipecah. Setelah diketahui sertifikat itu ada di bank, terdakwa sempat menawarkan unit lain yang masih ada di lokasi Citra Land, namun kesepakatan tidak terjadi karena unit lain itu juga bermasalah," pungkas Elanda.

Sedangkan, Elizabeth Kaveria selaku perantara juga memberikan kesaksian, mengenai alas hak rumah tersebut, "Pada saat itu sudah saya tanyakan kepada terdakwa, ia mengaku kalau sertifikat rumah itu tidak ada masalah dan sertifikatnya ada di notaris Ariyani, itu kata terdakwa kepada saya," ucapnya.

Ditanya oleh Hakim mengenai kewenangan seorang broker, karena pelapor ini sangat dirugikan dia sudah membeli dengan harga yang sudah sesuai lalu dibebani lagi masalah oleh penjual "apakah seorang broker itu diperbolehkan untuk mengecek keabsahan surat dari rumah tersebut atau hanya cukup percaya saja, "kalau masalah itu sebenarnya penjual yang baik, harus menunjukkan terlebih dahulu sertifikat, namun terdakwa bersikukuh kalau sertifikat sudah ada di notaris, dan saya diminta oleh terdakwa untuk tidak ikut campur masalah yang lainnya. Jawab saksi

Sementara itu, kesaksian Kho Wen Tjwe mengatakan, terkait persoalan itu, ia mengaku baru mengetahuinya. Menurutnya, Saat itu sudah dibuatkan IJB pada tanggal 22 Juni 2016 dan secara terinci.

"Saat itu, saya menjual rumah kepada terdakwa dengan kesepakatan harga sekitar Rp 4 miliar, seingat saya di bulan Juni 2016, jual beli melalui notaris Ariyani yang sudah ditunjuk oleh Terdakwa," imbuhnya.

Usai sidang, kuasa hukum terdakwa, menyatakan, perihal IJB yang dibuat oleh notaris Ariyani sudah dijelaskan secara terperinci, termasuk masih dalam agunan bank, ia membenarkannya. Ketika itu, ia mengklaim pihak notaris menjelaskannya.

Sementara Penasehat Hukum Elanda Sujono, Yance Leonard Sally, SH. Membantah hal itu, ia mengatakan bahwa, Notaris Ariyani membuat IJB ada 2, yang pertama antara Kho Wen Tjwe dan Kho Handoyo Santoso Pada tanggal 22 Juni 2016, lalu antara Kho Handoyo Santoso dengan Elanda Sujono, Pada tanggal 24 Juni 2016. cuma beda dua hari.

"Dan Elanda tidak tau terkait adanya IJB antara Kho Wen Tjwe dengan Kho Handoyo Santoso, tadi sudah dijelaskan oleh saksi broker, bahwa pada saat itu Elanda tidak mengetahui kalau rumah itu sertifikatnya ada di bank. Kalau klien saya mengetahui rumah tersebut sertifikatnya ada di bank tidak akan mungkin jadi membeli rumah tersebut," tutupnya. (K3)