Terdakwa Lily Yunita Langsung Diputus Onslagh, Terbukti Bukan Perkara Pidana?

Surabaya, kabarkini.co : Ketua Majelis Hakim, Erintuah Damanik langsung memutus Onslagh atau lepas dari tuntutan hukum terhadap perkara dari terdakwa Lily Yunita. Putusan itu dilakukan pada Rabu (2/2/2022) siang di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya.

Dalam putusannya, memang terdakwa terbukti bersalah. Namun, perbuatan Lily bukanlah suatu tindak Pidana.

Sementara, Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) karena predikat crime atau kriminalnya tak terbukti. Oleh karena itu, dakwaan itu dianggap tidak terbukti dan harus dibebaskan dari dakwaan kedua.

"Terhadap terdakwa (Lily Yunita) menjatuhkan putusan lepas dari segala tuntutan hukum (ontslag van rechtsvervolging)," kata Damanik di ruang Garuda 2, PN Surabaya. Rabu (2/2/2022).

Lantas, hakim memberikan kesempatan kepada kepada penasehat hukum Lily, yakni Ade Darma Marianto dan Jaksa Penuntut Umum (JPU), Rista Erna Soelistyawati untuk menyatakan sikap menerima atau banding.

Sementara itu, kuasa hukum terdakwa, Ade Darma Marianto angkat bicara perihal putusan. Menurutnya, pihaknya bakal akan melihat sikap dari JPU.

"Kami sangat bersyukur atas perjuangan selama sidang sehingga hari ini terbayarkan dengan klien kami dinyatakan onslagh. Ini hanya perkara Perdata saja seperti itu," ujarnya.

Sedangkan, JPU Rista Erna Soelistiowati dari Kejaksaan Tinggi Jawa Timur menyatakan pikir-pikir. "Kami pikir-pikir," tuturnya.

Terpisah, Wakil Bupati Blitar Rakhmat Santoso yang selama ini disebut-sebut dalam perkara tersebut menegaskan putusan hakim tersebut membuktikan bila masalah tersebut memang murni perdata. Bahkan, tak ada kaitan dengan dirinya.

"Dari awal perkara itu memang perdata murni antara Lily dengan pelapor. Tidak ada hubungannya dengan saya," katanya.

Rakhmat mengaku, kini tanah Osowilangun yang disebut-sebut terkait dengan perkara tersebut sudah dilaksanakan eksekusi putusan oleh juru sita PN Surabaya. Hal itu pun telah terlaksana beberapa waktu silam.

Oleh karena itu, Rakhmat berharap semua pihak untuk menghormati putusan majelis hakim. "Juru sita PN Surabaya sudah melaksanakan putusan dan itu memang murni ada ahli waris yang mempunyai hak. Tidak ada hubungannya dengan perkara dengan terdakwa Lily Yunita. Kita hormati putusan majelis hakim dan sudahlah saya itu dari awal tidak pernah ada hubungan dengan pelapor,” katanya.

Sebelumnya, berdasarkan surat dakawaan Lily Yunita menawarkan kerjasama untuk mendanai pembebasan tanah, an.H.Djafar No.pendaftaran Huruf C 397, desa Osowilangon Tandes.Tanah tersebut dibeli oleh Rachmad Santoso dari ahli waris sebesar 800 ribu/ meter.

Untuk pengurusan petok sampai menjadi Sertifikat dipatok harga 2 juta, selesai sampai 2,5 bulan.

Terdakwa menyakinkan kepada Lianawati Setyo bahwa tanah tersebut sudah ada pembeli H.Sam Banjarmasin 3,5 juta/ meternya.

Kemudian Terdakwa meminta uang kepada saksi Lianawati untuk kerjasama secara bertahap bulan Juni 2020 sampai Juli 2020, senilai Rp. 47.150.000.000,-

Terdakwa menyakinkan saksi Lianawati Setyo sebagai pemegang kuasa jual atas tanah H. Djabar Nomor pendaftaran Huruf C. 397 Desa Osowilangon Kec. Tandes.

Saat saksi Lianawati mencairkan 7 cek bank BCA rekening an.Doe Sun Bakery PT, yang ditanda tangani terdakwa, tidak dapat dicairkan karena Saldo tidak cukup. Akibat perbuatan terdakwa, saksi Lianawati Setyo menderita kerugian Rp. 47.150.000.000,-.

Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 378 KUHP. (K3)